Rabu, 25 Agustus 2010

Kisah - kisah sukses


Kisah Sukses Seorang Pembersih Kaca

Bagi orang-orang menengah atas, mengendarai mobil yang bersih, wangi dan terawat mesin dan bodinya merupakan suatu kebutuhan. Mobil, bagi mereka bukan sekedar alat transportasi, tapi sekaligus sebagai simbol prestise dan kebanggan. Tidak heran kalau mereka ingin mobilnya tetap kelihatan bersih dan mengkilap. Sebab itu, untuk membuat mobil tampak cantik, mereka tidak keberatan mengeluarkan kocek minimal Rp 500 ribu setiap kali berkunjung ke bengkel salon mobil.Haji Akbar Sarwono, pemilik dan pendiri salon kecantikan mobil HAS, memang jeli menangkap peluang bisnis. Di Jakarta adalah lokasi pilihan yang tepat untuk membuka usaha tersebut. Karena perkembangan ibu kota begitu cukup pesat dalam perekembangan jumlah mobilnya, terutama pemilik mobil pribadi. HAS, panggilan akran Haji Akbar Sarwono, kini telah mempunyai lima bengkel di Jakarta yang setiap bulannya didatangi hampir 400 mobil untuk mempercantik interior mapun eksterior mobil. Menurut HAS, jumlah tersebut masih dapat ditingkatkan. Kendala HAS bukan pada pasar, tapi teknis, seperti keterbatasan tenaga kerja dan ruang pembersihan.
Sejak muda, hobi pria kelahiran Surabaya ini adalah merawat mobil.”Saya nekat buka bisnis ini dengan modal dengkul,’ ungkapnya. Bisnis yang kini menghasilkan ratusan juta rupiah per tahun ini bermula dari jasa membersihkan kaca. Pada tahun 1987, Has membuka bengkel pertama, di garasi rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Timur. Kala itu hanya dibantu oleh seorang tukang cuci mobil dan dan menempati sebuah garasi rumahnya yang hanya berkapasitas 2 mobil. Dengan janji kaca buram jadi terang Has memasang tariff Rp 25 ribu  per mobil. Mulanya, ia pesimis bahwa tarif sebesar itu dapat memikat konsumen. “Ongkos cuci mobil saja ketika itu hanya Rp 3000,’ katanya. Tapi, diluar dugaan Has, pada hari pertama beroperasi, bengkelnya menerima tiga mobil.
Melihat respon pasar yang dinilai cukup baik itu, Has membuka lagi bengkel di Pluit. Kali ini garasi rumah orang tuanya, dan hanya dapat menampung satu mobil. Sejak saat itu, Has tak menganggap lagi merawat mobil sebagai hobi. Ia mulai berpikir serius tentang pengembangan bisnis. Karena itu ia terus mempelajari tentang pengembangan binis. Ia terus mempelajari soal kecantikan mobil dengan membaca buku serta mengunjungi pameran-pameran otomotif mobil. Beliau juga mengeluarkan dana cukup besar untuk pergi ke Amerika, di sana Has mengunjungi bengkel-bengkel salon kecantikan mobil dan banyak bertanya tentang bisnis ini. Has semakin mahir dalam bisnis ini. Has menyadari bahwa usaha ini selain tergantung pada jumlah mobil yang beredar juga tergantung pada lokasi. Pada tahun ketiga Has telah berhasil meraih sekitar 200 pelanggan. Selanjutnya Has mencari tempat berusaha yang dapat menampung lebih banyak.  Di tempat yang baru tersebut, Has tidak hanya menawarkan jasa membersihkan kaca mobil, tapi juga mempercantik mobil. Jasa yang ditawarkan dikemas dalam satu paket, yaitu membersihkan seluruh kaca mobil, mengkilapkan cat, membersihkan seluruh bagian interior, membersihkan dan sekaligus mengkilapkan ban, bumper setang wiper, dan handle pintu mobil, serta menciptakan keharuman di dalam mobil seperti mobil baru.
Meski tidak tamat sekolah dasar, pemilik Has termasuk otodidak yang bisa dengan cepat menguasai ilmu dan ketrampilan secara mandiri. Bayangkan saja, kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1941 itu menguasai bahasa Arab, Belanda, Inggris, serta Cina dalam tiga dialek. Konon, keahlian multi bahasa itu berkat pergaulannya dengan kalangan the high yang menjadi langganannya. Karena itu pula, Has juga sering menerima panggilan memoles kapal pesiar dan pesawat terbang milik para konglomerat.
Kisah sukses seorang pembersih kaca ini, patut kita teladani. Bagaimana kegigihannya mulai dari membersihkan kaca hingga mampu menjadikan mobil-mobil pelanggannya tampak seperti keluar dari showroom saja. Semoga dapat menjadi inspiransi berharga bagi anda para pebisnis baru.








KISAH SEORANG SANTRI YANG SUKSES DALAM USAHA ROTI


Reza Malik, Obsesi Usaha Roti Sang Santri
Santri jebolan pondok pesantren ini berhasil mengembangkan usaha roti hingga produksinya bisa meludeskan 150 bal tepung terigu sehari. Dia masih menyimpan sebuah obsesi besar.
Untuk ukuran pengusaha roti skala kecil menengah (UKM), prestasi Reza Malik memang luar biasa. Lihat saja volume produksinya, yang menghabiskan tepung terigu sampai 150 bal sehari. Dengan merek Riz-Qy, roti produk Reza dipasarkan melalui 14 unit armada mobil, 50 unit gerobak becak, dan 50 orang pedagang pikulan. Di samping itu, Reza masih memiliki tiga buah toko roti. Dilihat dari sarana pemasarannya, jelas, Reza membidik konsumen kelas bawah, menengah sampai atas sekaligus.
“Khusus yang pikulan, saya anggap perlu agar bisa menyasar daerah pemukiman yang sulit dijangkau kendaraan,” ujar Reza, “Sedangkan yang dijajakan di toko, adalah roti kualitas bakery, untuk kalangan menengah ke atas.” Pria berusia 45 tahun itu, berniat mengembangkan toko rotinya, dengan sistem waralaba.
Reza Malik memulai usaha roti pada 1982, dengan modal Rp 10 juta. “Ketika itu, terus terang saja, pengetahuan saya tentang roti, nol,” akunya. Usaha Reza mulai berkembang, ketika —pada 1984— mengikuti pelatihan pembuatan roti di baking school bogasari selama 2 minggu. “Dari situ, saya bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan membuat roti yang baik,” ujarnya.
Agar selalu bisa mengikuti selera konsumen, Reza melakukan observasi secara periodik. “Ya, observasinya sederhana saja. Yang penting, kita tahu apa maunya konsumen,” jelasnya, “Intinya, kita harus tanggap dan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan selera konsumen.”
Dalam rangka itulah, Reza tak pernah bosan mencari pengetahuan baru soal pembuatan roti. Misalnya, dia tak sungkan-sungkan mendatangi karyawan bahkan pemilik bakery terkemuka di Jakarta, untuk mengintip rahasia pembuatan roti mereka. Buku-buku tentang roti pun, menjadi objek pemburuannya.
Kerja keras Reza memang tidak sia-sia. Usaha rotinya terus mengalami peningkatan. Krisis ekonomi, memang sempat menggoyahkan bisnis roti Reza. “Tapi, dengan sekuat tenaga, saya upayakan jangan sampai terjadi penurunan drastis. Paling tidak, agar tidak terjadi PHK,” ucapnya, “Kalau perlu, saya mengambil kredit bank, meskipun bunganya tinggi.”
Reza, seorang santri jebolan Pesantren Gontor, Jawa Timur tahun 1978, memang memiliki jiwa wirausaha yang luar biasa. Di samping roti, dia juga berhasil mengembangkan sebuah toko grosir. Toko bernama “Haji Malik” yang di daerah Jatinegara, Jakarta Timur, sudah sangat terkenal itu, juga berperan sebagai distributor tepung terigu, dengan volume penjualan sekitar 15 ribu bal per bulan.
Reza juga memiliki perusahaan yang bergerak dalam bidang penyaluran tenaga kerja ke luar negeri. “Tapi, yang paling saya nikmati, ya, bisnis roti ini,” katanya.
Menurut Reza, usaha roti bisa mendatangkan kepuasan tersendiri, terutama karena bisa memberikan manfaat pada banyak orang. Karena itu, selama menjalankan usahanya, Reza terus memendam sebuah obsesi besar: mendirikan baking school di daerah Jakarta Timur. “Dengan merangkul teman-teman sesama pengusaha roti, mudah-mudahan pada 2003 nanti rencana itu bisa terwujud,” tekadnya.
Reza yakin, keberadaan baking school akan sangat membantu calon-calon pengusaha makanan berbasis tepung, atau pengusaha yang mau mengembangkan usahanya. Pasalnya dia sendiri merasa, perkembangan usahanya sangat ditopang oleh peningkatan keterampilan dan pengetahuan di bidang pembuatan roti.

KUNCI SUKSES:

* Serius mempelajari teknik pembuatan roti yang baik.
* Melakukan observasi secara periodik, untuk mengikuti perubahan selera konsumen.
* Membidik konsumen kalangan atas dan bawah, dengan menggunakan berbagai sarana penjualan yang sesuai.
* Menikmati usaha yang dijalaninya.





Kisah Pedagang Es Jadi Pebisnis Sukses

Thursday, April 15th, 2010
oleh : Yuyun Manopol

Berbagai pekerjaan kasar pernah dilakoninya, dari kuli angkut, supir angkot hingga tukang es. Berkat kemauannya belajar, pria berdarah Arab-Betawi ini mampu menjadi pengusaha sukses. Setelah melewati krismon, bisnisnya pun terus beranak-pinak.
Kenangan berdagang es sekoteng pada 1980 di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, tak akan pernah dilupakan Hisyam Said Bawahab. Karena, itulah detik-detik awal perubahan drastis dirinya dari orang kecil menjadi pebisnis sukses seperti sekarang. Saat itu pria keturunan Arab-Betawi ini berkenalan dengan salah seorang pembeli es sekotengnya yang ternyata pemilik UI Metal Work (UMW), Umawar. “Waktu itu dia baru pulang dari Inggris. Nawarin sama ane mau nggak ikut dia kerja di perusahaan yang mau dibikinnya di bidang metal works,� ujar Hisyam dengan logat Betawi yang kental.
Pria kelahiran 15 April 1954 ini mengaku saat itu ia tidak mengerti apa itu metal works. “Metal itu besi. Works itu bekerja. Lalu kalau digabung, besinya diapain?†katanya mengingat pertanyaan lugunya 30 tahun silam. Namun, ia pikir saat itu tak ada salahnya mencoba. Ia pun menerima tawaran sebagai staf pemasaran. “Saya juga ngeliatin anak-anak bikin apa,� ujarnya. Dua tahun kemudian UMW mulai mengkhususkan diri pada pembuatan perangkat dapur (kitchen equipment). Potensi bisnis ini besar karena saat itu belum banyak pemainnya. Hampir semua pengadaan barang untuk kategori ini di berbagai hotel dan perusahaan mengandalkan impor. Dengan keleluasaan seperti itu, UMW cukup berjaya saat itu. Di sinilah Hisyam banyak belajar tentang bisnis. Tahun pertama, banyak proses kerja yang perlu disesuaikan. “Mesin bubut saya berdiameter 60 cm. Setelah sampai ke lokasi, ternyata yang harus dibubut berdiameter 1 meter. Saya harus balik lagi ke kantor,� kata pria berusia 56 tahun ini sambil mengingat kerja kerasnya saat itu.
Setahun kemudian, pertumbuhan bisnis UMW turun. Pada momentum inilah Hisyam memilih merintis bisnis sendiri: memproduksi perangkat dapur dengan dibantu tiga karyawan. Hanya setahun berjalan, usaha ini kandas. Supaya dapurnya tetap mengepul, sulung dari 9 bersaudara ini kembali berjualan es. Ketika sedang duduk menanti pembeli es cendolnya di daerah Matraman, Jakarta Pusat, Hisyam ditawari seorang kawan baiknya untuk memakai gedung miliknya. “Pake tuh tempat gue, kosong. Ntar kalau ada duit, baru bayar,â€� ujar kawannya itu. Di gedung inilah ia menjalankan roda bisnisnya yang sempat terhenti, dan kembali diawali dengan tiga karyawan. Kali ini ia bertekad lebih serius. Pada 1985, secara resmi PT Hatindo Metal Utama berdiri — Hatindo adalah singkatan “Hati Indonesiaâ€�. Produk-produk yang dihasilkannya: meja, tempat cuci piring, pemanas, pendingin, exhaust van dan kompor. Di samping memproduksi, ia juga mengimpor produk lain seperti oven, mixer, steamer dan rice cooker besar yang kualitasnya lebih bagus.
Diakui Hisyam, awalnya ia tidak tahu persis seluk-beluk produksi dan pengadaan peralatan dapur. Namun, ia tak menolak order. Setelah order masuk, barulah ia pelajari struktur perangkat tersebut. Caranya, ia tak segan-segan membongkar barang impor (pendingin, misalnya) untuk mengetahui komponen di dalamnya. Dari sini, ia lalu membuat pendingin versi lokal. Uniknya, kliennya tak keberatan, sehingga Hisyam pun kerap meminta klien membeli perangkat impor yang mereka inginkan, lalu Hatindo akan menirunya.
Sedikit demi sedikit hasil dari bisnis ini ia kumpulkan. Selanjutnya, sebagian dana tersebut digunakan untuk membeli tanah dan membangun pabrik di Ciputat, Jakarta Selatan, seluas 1.000 m2. Sebagian lainnya ia gunakan untuk membeli mesin bekas dan bahan baku yang didapatnya dari kawasan Kota, Jakarta Barat. Seiring dengan pertumbuhan bisnisnya, karyawan pun bertambah. Pelanggannya tersebar di mana-mana, bahkan sampai luar Jawa. Rahasianya cuma satu: bisa membuktikan punya produk yang tidak kalah bagus kualitasnya dari produk luar negeri. “Selanjutnya, ya mau capek dan kerja keras,� ungkapnya sembari menambahkan, saat itu ia kian sering mengikuti berbagai pameran baik di dalam maupun di luar negeri. Melihat perkembangan usahanya yang pesat, Bank BNI menawarinya kredit. Saat itu ia pun mengambil Kredit Usaha Kecil BNI sebesar Rp 50 juta. Hisyam tidak membutuhkan waktu lama untuk melunasinya: hanya setahun.
Lama-kelamaan, bisnis ini mulai banyak diminati orang. Namun, Hatindo tak goyah. Perusahaan ini tetap melanjutkan pelayanan 24 jam terhadap konsumen. “Kalau sore karyawan pulang, saya taruh dua karyawan untuk menjaga, takutnya ada telepon klien masuk,†kata Hisyam. Kelebihan lain, Hatindo selalu percaya diri terhadap semua permintaan. Pantang bagi Hatindo menolak. Bagi Hisyam, tak ada yang tidak mungkin. Sesulit apa pun permintaan klien, selalu ada jalan keluarnya. Ia menekankan pada anak buahnya untuk secepat mungkin mengeksekusi permintaan klien. “Penawaran tidak boleh lama. Orang telepon sekarang, ini hari juga harus sampai ke dia,� ujarnya tandas. Penawaran di sini biasanya menyertakan gambar, perhitungan, spesifikasi, dan lain-lain yang terkait dengan order. Tidak ada kata besok. Lama pembuatan barang sekitar 1-3 bulan. “Saya planning pakai kapal laut pengiriman barang impor. Tapi saya lihat outlet-nya sudah mau buka. Maka, saya ubah naik air plane,†papar Hisyam mencontohkan salah satu cara kerjanya.
Prinsipnya: kibarkan bendera dulu. Nanti kalau bendera sudah berkibar, kerugian (uang) yang sebelumnya bisa kembali. Baginya, keuntungan merupakam hal nomor dua setelah pelayanan. “Sampai-sampai kalau saya datang ke klien, saya bilang, ‘Gue dateng ke sini bukan cari order. Gue datang cari lu’,†kata Hisyam. Rupanya cara tersebut cukup jitu untuk mengambil hati calon klien. Menurutnya, hal terpenting pertama adalah klien mau memakai jasanya. Jika jumlah klien sudah banyak, untuk cari klien baru ia cukup bilang, “Masak ente gak mau pakai jasa kita?â€
Pendekatan ini cukup berhasil. Saat itu, hampir bisa dipastikan, kalangan restoran besar, perusahaan multinasional dan hotel berbintang lima (pada 1980-an dan 1990-an), menggunakan jasa Hisyam. Sebutlah, Hotel Hilton dan resto Ponderosa di Widjojo Center. “Okupansi hotel sangat tinggi. Mereka sudah tidak mikir harga. Yang penting, siapa yang bisa cepat, dia yang dapat order,� ujar ayah tiga anak ini. Bahkan, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pernah menjadi kliennya. Ia punya istilah yang unik untuk usahanya. “Kepusingan orang kami ambil, kami jadiin duit. Kalau dipusingin lagi, orang malah lari,� ungkapnya. Dan, ia menyebut manajemen usahanya sebagai gaya manajemen jalanan.
Pada 1985, ia berkenalan dengan Ron Muller, yang ketika itu merupakan pemegang master franchise Pizza Hut (PH) di Indonesia. Ron ternyata memercayakan pengadaan alat-alat dapurnya pada Hatindo. Ekspansi PH di Indonesia sangat cepat. Hanya dibutuhkan waktu empat tahun untuk membuka 75 gerai. Hatindolah yang ketiban rezeki mengerjakan perangkat dan instalasi dapur untuk 75 gerai PH saat itu. Hisyam mengaku, omset terbesar sampai sebelum 1995 berasal dari order PH. Malah, ia dipercaya memproduksi boks pengantar PH (ditempelkan di motor petugas). Dalam sebulan, Hatindo memproduksi ratusan ribu boks. Derasnya order dari PH membuatnya harus menyewa pabrik di Pulogadung, Jakarta Timur. Sepanjang malam, Hisyam tiada henti memperhatikan kelangsungan proses kerja di pabrik. Dari order boks pengantar piza saja, ia bisa meraih keuntungan Rp 30 juta/bulan — angka yang cukup besar kala itu. Selama sepuluh tahun ia mendapatkan order dari PH untuk produksi boks pengantar pizza. “Nekuk uangnya aja di dompet ampe susah,â€� ujar Hisyam berkelakar. Bisa dikatakan, periode 1985-95 merupakan masa jaya Hatindo. Saat itu jumlah karyawannya mencapai 250 orang.
Hisyam mengakui bisnis yang dijalaninya saat itu sangat menggiurkan. Gambarannya, harga ditentukan dari seberapa tinggi tingkat kesulitan dan harga barang yang diimpor. Seperangkat dapur untuk resto nilainya bisa mencapai Rp 300 juta/gerai. Marginnya 80%-100% per order. Ada tiga unsur perhitungan keuntungan: material, proses dan profit — perbandingannya sama. Dengan margin yang cukup besar itu, akhirnya ia berhasil menyelesaikan pembangunan pabrik barunya di Ciputat.
Sampai kemudian pada 1998 datanglah bencana itu: krisis moneter. Mayoritas klien lamanya tidak lagi berekspansi, bahkan banyak di antaranya yang menutup gerai. Alhasil, omset Hatindo merosot drastis. “Sejak krismon, kami susah. Modal yang dibutuhkan besar, tapi untungnya tipis,� ungkap Hisyam. Boleh jadi, itu karena nilai tukar rupiah yang anjlok drastis akibat krismon dan mahalnya bahan baku. Bahkan, kini ia tidak bekerja sama lagi dengan PH. Untunglah, ia masih bisa mendapat klien baru, di antaranya resto Dairy Queen, resto sandwich Cali Deli dan pabrik sepatu.
Tahun 2000, pelan-pelan bisnis Hatindo mulai merangkak naik. Dan, pada 2001 ia memutuskan mulai mencoba bisnis lain. Setelah hanya menjadi pemasok perangkat dapur untuk resto piza, ia beralih menjadi pemilik resto sejenis, yang memakai merek Papa Ron’s Pizza. Gerai pertamanya ada di Warung Buncit. Gerai ini juga merupakan gerai Papa Ron’s pertama di Indonesia. Ia membeli lisensi franchise dari Ron Muller, pendirinya. Sukses dengan gerai pertama, Hisyam membuka gerai kedua dan ketiga di Permata Hijau, Jakarta Selatan, dan Depok. Hubungan baiknya dengan Ron Muller, yang diawali di Pizza Hut, masih terjalin sampai sekarang.
Diungkapkan Hisyam, modal pembangunan satu gerai Papa Ron’s tergolong besar. Khusus interior dan dapur memakan dana Rp 1,5 miliar. Ini belum termasuk modal tanah dan bangunan. Alhasil, nilai investasinya minimal Rp 5 miliar per gerai. Setiap gerai mempunyai perbedaan dalam periode kembali modal. Namun, ada beberapa gerai yang mampu meraih breakeven point dalam waktu lima tahun. Satu gerai membutuhkan 25-35 karyawan.
Properti merupakan bisnis Hisyam selanjutnya. Lebih dari lima gedung di sepanjang jalan Warung Buncit merupakan properti yang dibangunnya. Sebenarnya, pada 1994 ia sudah merintis bisnis ini. Saat itu ia mencoba peruntungan pertama dengan membeli tanah dan membangun perumahan Pesona Agung (23 unit rumah) di Depok, seluas 2 ha. Pada 1996 semua rumah tersebut terjual. Satu rumah disisakannya sebagai rumah pribadinya. Margin yang diambilnya 50%-60%. Ini berbeda dari tren industri properti sekarang di mana margin yang diperoleh hanya 30%. “Sekarang daya belinya lemah. Jadi, kami tidak bisa menahan lama.â€
Hisyam mengakui bisnis properti yang dijalaninya tidak berbadan hukum. Kegiatan bisnis ini
bersifat perorangan. Polanya adalah dengan membeli tanah di berbagai kawasan. Setelah dibangun untuk kepentingan ruko, gedung perkantoran atau perumahan, ia pun akan menjualnya.
Pelan tetapi pasti, proyek propertinya bertambah. Ia mencermati, tak ada rumah mewah yang tak laku. Alhasil, ia membangun 22 rumah di Sektor 9 Bintaro, dilanjutkan dengan membangun perumahan Pesona Eksklusif. Ia juga membangun 35 rumah serupa di kawasan pinggiran Jakarta seperti Ciputat, Supratman, Pondokrangon dan Jatimakmur. Beberapa di antaranya sedang dalam pembangunan. Prinsipnya, setiap ia menyelesaikan satu proyek pembangunan, walaupun belum terjual, tenaga kerja akan dialihkan untuk mengerjakan proyek pembangunan selanjutnya. “Sayang bila ada tenaga tidak dimanfaatkan,� ujar mantan anggota Dewan Pakar Partai Keadilan Sejahtera ini.
Selain sukses dengan bisnis perumahan, Hisyam membangun beberapa gedung di sepanjang Jalan Warung Buncit: Menara Takaful (gedung pertamanya), Menara Kospin, Ranch Market, dan beberapa ruko lain. Ia sengaja mengambil kawasan Warung Buncit. Alasannya, “Daerahnya manis,� kata Hisyam seraya menerangkan, daerah manis artinya cepat terjual. Padahal, diakuinya, harga tanah di wilayah ini tergolong mahal, kini mencapai Rp 10 juta/m2. Ada beberapa gedung miliknya yang laku terjual seharga Rp 20-an miliar di kawasan itu.
Tak hanya properti yang memikat Hisyam. Diam-diam ia merintis bisnis distributor pendingin dari Taiwan. Untuk itu, ia mendirikan anak usaha dengan nama PT Kota Jaya. “Begitu produk Cina masuk dengan harga lebih murah, pendingin kami kalah harga,� ujarnya. Sekarang Kota Jaya yang secara operasional ditangani anak pertama Hisyam juga membuat perangkat dapur berbahan dasar stainless steel.
Saat ini bisnis Hisyam beragam. Ia tak hanya berbisnis perangkat dapur, properti dan alat pendingin, tetapi juga alat kesehatan, biro perjalanan dan agensi periklanan. Akan tetapi, di bisnis-bisnis yang dirintis saudaranya itu, ia hanya menaruh kepemilikan saham, masing-masing sekitar 25%.
Bagi Hisyam, memulai bisnis tak perlu berpikir lama. Hanya ada satu pertimbangan utama: bisnis ini mempunyai potensi berkembang ataukah tidak. Selanjutnya, ia akan mengeksekusi rencana itu. “Bisnis itu berbuat. Bukan ngomong. Ngga ada tuh kata ‘nanti’ buat saya. Waktu saya muda, setahun ini bisa bikin berapa proyek. Jalan semua.,� ujarnya bangga.
Tahun ini Hisyam berencana membuka bisnis baru yang berkaitan dengan kartu belanja dan televisi kabel. Dikatakannya, setelah melintasi berbagai industri bisnis, ia banyak mendapat pelajaran berharga untuk tetap menjaga kelangsungan usaha. “Kalau buka itu gampang, maintain-nya yang sulit,� katanya. Ia berkeyakinan, berbisnis apa pun, selama masih ada kemauan dan kerja keras, pasti bisa dibangun.
Menurut Noragraito, Manajer Operasional PT Entertainment International Tbk. — perusahaan yang menaungi merek Papa Ron’s, salah satu sifat Hisyam yang menonjol adalah keterbukaan. “Di setiap bisnisnya, Hisyam blak-blakan ngomongin soal modal dan keuntungan. Ia ingin karyawannya pun merasa memiliki perusahaan tersebut,â€� kata lelaki 58 tahun itu. Hisyam juga tak pelit berbagi ilmu. Jika ada karyawannya yang merasa kesulitan mengerjakan tugas, Hisyam tak segan-segan memberitahu strategi pentingnya. “Dia selalu bilang, ‘Ini sawah kalian. Kalau kalian serius menggarapnya, hasilnya pasti bagus dan kembali untuk kalian’,â€� kata Noragraito menirukan perkataan Hisyam. Menurutnya, sifat itu terkadang menjadi bumerang bagi Hisyam. Banyak anak buahnya yang keluar karena mempunyai bekal tentang strategi berbisnis di industri yang sama.
Karakter Hisyam lainnya yang menonjol adalah kepeduliannya pada anak buah. “Tidak lihat level. Asal karyawannya berprestasi dan ada keuntungan lebih, dalam setahun pasti ada saja anak buahnya yang dibiayai naik haji,� ujar pria yang sudah 23 tahun mengenal Hisyam itu. (*)




ES PUTER


REPUBLIKA.CO.ID, Dunia guru  adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupanku  sebagai warga masyarakat, dalam tulisan ini saya memiliki keinginan untuk berbagi cerita tentang “sisi lain” kegiatan saya sebagai seorang guru ditengah pengabdian sebagai  pelayan masyarakat yang bergerak dalam dunia pendidikan.  Semoga kisah saya ini ada manfaatnya, terutama bagi rekan-rekan seperjuangan  seluruh guru di Indonesia. Tidaklah dilarang seorang guru untuk memiliki usaha atau profesi lain disamping sebagai guru selama tugasnya sebagai pendidik tidak “dirugikan”.

Nilai tambah yang berharga ketika wawasan keguruan dipadu dengan wawasan lain yang memiliki kekhasan tersendiri, yakni duni wirausaha. Berwirausaha dan menjadi guru  dapat saling mendukung seandainya didalami dan dikelola secara profesional apapun jenis usahanya. Sosok guru yang memiliki kemampuan enterpreuneur menurut saya memiliki nilai plus , karena pengalamannya ini dapat menginspirasi peserta didik dalam kelas seandainya mereka bertanya  dan ada kaitannya dengan wirausaha.

Saya sendiri memiliki jenis usaha sederhana yang berkaitan dengan  layanan jasa pesta yakni  es krim puter dan es carving . Usaha ini sudah saya rintis sejak tahun 2000 dengan modal awal Rp 10 jutaan. Syukur pada Tuhan usaha ini sampai hari ini masih berjalan dan terus berkembang , saya berpikir pesta (seperti pernikahan, khitanan dan syukuran yang lainnya) takkan pernah berakhir akan selalu ada.

Konsumen saya adalah mereka yang akan melaksanakan pesta atau hajatan, lebih beruntung lagi setiap kegiatan pesta waktunya sebagian besar adalah pada hari sabtu dan minggu. Hari sabtu dan minggu tidaklah mengganggu pekerjaan saya sebagai guru, kalau hari minggu saya dapat langsung memantau karyawan saya bekerja dan hari sabtu saya hanya mengarahkan saja, saya masih bisa bekerja sebagai guru.

Anak sekolah yang mau belajar bekerja __yang saya ajar di SMAN1 Kota Sukabumi dimana tempat saya mengajar__ dapat belajar mencari uang sendiri melalui usaha saya ini. Selain teori dan motivasi tentang  kewirausahaan, saya dapat mengajarkan bagaimanan bekerja, melayani  orang lain dan mencari uang ditempat pesta. Nama usaha yang saya miliki adalah “CENDANA WEDDING PARTY” dengan alamat Villa Taman Edelweiss No 37 C Sukabumi Tlp. (0266) 6250468. Banyak hal yang saya dapatkan, kepuasan bathin, pendapatan bertambah, punya karyawan, banyak relasi catering, punya warisan usaha untuk anak-anak saya kemudian. Tidak sedikit rekan seprofesi yang menggunakan produk  saya ini, mereka merasa terbantu  ketika ada acara pesta keluarga, sebagai bonus saya bersedia secara gratis menjadi  konsultan pesta bila mereka memakai produk saya.

Usaha ini memberikan semangat dan kepercayaan diri yang luar biasa  bagi saya, mengabadi pada dunia pendidikan  sebagai guru, berwirausaha untuk keluarga dan membuka lapangan pekerjaan bagi tetangga dekat. Bila saya pensiun nanti usaha saya ini akan setia menemani dan terus berinovasi melayani konsumen sebagai tambang rezeki.

Bagi guru-guru diseluruh Indonesia mari menjadi guru yang profesional mengabdi mencerdaskan bangsa dan ciptakan lapangan pekerjaan untuk bangsa, awali dan mulai hari ini. Pendidikan karakter dan kompetensi enterpreuneur yang akan dimasukan pada kurikulum dunia pendidikan akan menjadi mudah bagi guru yang mengabdi secara professional plus memiliki jiwa kewirausahan.

Sebagai spirit kepada rekan seperjuangan usaha saya ini tidak mengganggu pekerjaan saya sebagai guru, saya mengajar seperti biasa, saya ketua MGMP Sejarah Kota Sukabumi, saya melanjutkan kuliah di pasca sarjanan , saya memiliki dua piala dan piagam tingkat nasional bidang keguruan, saya dapat juara 1 provinsi bidang seni, juara 1 Kota bidang seni. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan mari kita untuk “ngotot”  melangkah lebih baik memberikan kebermanfaatan bagi semua dimanapun kita berada.





Dari Tukang Dorong Gerobak Roti hingga Miliki 6 Cabang Toko Roti
Pria putus sekolah yang hanya sempat mengenyam pendidikan di ST atau setara SMP, mengawali bisnisnya hanya bermodal sebagai tukang dorong gerobak roti hingga mendapat kepercayaan mengelola toko roti yang bangkrut. Kini ia memiliki enam toko roti yang tersebar di beberapa provinsi di Sumatera.
Puluhan karyawan berbaju merah, di sebuah toko roti Saimen, Jalan Raden Mattaher No 52-54, Pasar Jambi, tampak sibuk melayani setiap pengunjung yang datang. Di sisi kanan, terlihat rak-rak yang diisi bermacam-macam roti dan kue tradisional. Pembeli pun dapat dengan bebas memilih jajanan kesukaannya. Di bagian dalam tampak antrean para pembeli yang tengah memesan berbagai makanan seperti fried chicken, mi, nasi goreng, serta berbagai menu lainnya. Bahkan kursi-kursi yang disediakan hampir semua diduduki oleh para pengunjung yang menikmati makanan yang telah dibeli.
Dari lantai dua bangunan tersebut, terdengar riuh tepuk tangan seperti sebuah acara. Ternyata saat itu sedang berlangsung pemberian Anugerah Gandum Kencana 4. Acara yang telah menjadi agenda tahunan itu memberikan apresiasi kepada pelanggan setianya berupa hadiah-hadiah menarik seperti handphone dan sepeda motor.
Di tengah ruang tersebut, tampak berdiri sosok pria berkulit putih yang mengenakan baju kemeja kuning dan kacamata. Dengan penuh senyuman, dia menerima ucapan selamat dari seluruh undangan seraya bersalam-salaman. Dialah Simon Daud, sang pemilik toko roti Saimen, yang begitu terkenal di Jambi dan beberapa daerah lainnya.
Pembawaannya sederhana, tak ubahnya seperti pegawai lain. Sambil tersenyum hangat, ia mempersilakan Jambi Independent duduk. “Terima kasih sudah datang,” ucapnya mengawali pembicaraan kepada wartawan koran ini, yang juga memberikan ucapan selamat kepadanya.
Ia pun menjelaskan ihwal nama Anugrah Gandum Kencana yang diambil dari kata gandum. “Karena usaha roti, mi, dan ayam goreng, serta kue-kue yang saya kelola semua menggunakan gandum, makanya diberi nama Anugerah Gadum Kencana,” ujar pria kelahiran Bangka Belitung, 1957, itu.
Usaha roti yang dirintis sejak 1985 di Kota Jambi bermula dari kesederhanaan. Peralatan yang masih sederhana serta modal terbatas hanya Rp 20 juta. “Modal Rp 20 juta itu sudah termasuk sewa toko, kendaraan, peralatan kue sederhana, bahan baku, dan perlengkapan toko,” kenang Simon Daud akan masa lalu usahanya, yang diberi nama Roti Prancis.
Modal usaha yang sangat terbatas itu didapat dari hasil tabungan sejak 1997-1984 sebagai tukang dorong gerobak roti dan pengelola toko roti di Palembang. Pengalaman menjadi tukang dorong gerobak roti dilakoni Simon di usia 16 tahun ketika memutuskan merantau dari Bangka ke Palembang. Ia berharap setiba di Palembang bisa masuk Balai Pelatihan Kerja yang dikelola orang Jerman. Tapi sayang pelatihan itu sudah ditutup, karena hanya berlangsung lima tahun. “Pas saya ke Palembang, pelatihan itu sudah tahun kelima, jadi saya tidak bisa ikut lagi,” ujarnya.
Tak berputus asa, untuk memenuhi kebutuhan hidup, Simon ikut bekerja di sebuah toko roti sebagai tukang gerobak yang mengantarkan roti ke ekspedisi untuk dikirim ke daerah. “Saya bekerja sebagai tukang dorong gerobak roti selama tiga tahun,” akuinya.
Selama mendorong gerobak, Simon dengan ringan tangan sering membantu pekerjaan para pembuat roti. Dari rajin membantu dan bertanya itulah akhirnya Simon mendapatkan ilmu tentang membuat roti. “Dasarnya juga saya memang sudah bisa bikin roti, belajar dari ibu saya. Tapi di toko roti itu saya bisa menambah ilmu lagi,” ujar pria yang memiliki tiga anak itu.  
Tiga tahun bekerja sebagai pendorong gerobak roti, toko tempatnya bekerja bangkrut dan terlilit utang karena sang pemilik kalah judi. Tak ingin kehilangan pekerjaan, Simon pun melakukan negosiasi dengan pabrik roti yang merupakan relasi bisnis tempatnya bekerja. “Saya minta ke pemilik pabrik untuk dukung saya menjalankan toko roti yang bangkrut tersebut, dan berjanji akan melunasi utang yang ditinggalkan pemilik sebesar Rp 6 juta. Saya janji lunasi dalam satu tahun,” tegas Simon dengan penuh keyakinan kala itu.
Berhasil melunasi utang toko roti, pemilik toko pun akhirnya menyerahkan usahanya kepada Simon dengan pembayaran modal toko sebesar Rp 4 juta, dicicil selama satu tahun.
Bakat usaha sebenarnya telah ditanamkan oleh orangtua Simon yang hanya bekerja sebagai nelayan. Dulu, sebelum berangkat sekolah ST, oleh orangtuanya Simon disuruh mengantar ikan terlebih dahulu ke pasar. Sesampai di sekolah, tubuh Simon sering tercium bau amis ikan. Karena itu Simon sering mendapat ejekan teman sekolahnya dan bahkan dijauhi. Tapi bagi Simon itu bukan masalah untuk bisa meneruskan sekolah. “Dari situ saya bertekad bisa sukses dan mengubah nasib agar tidak dihina orang. Setelah sukses pun saya tidak mau sombong,” kata Simon penuh sahaja.
Sukses mengelola toko roti di Palembang, tepatnya di dekat Jembatan Ampera, Simon memutuskan membuka usaha di Jambi. Pada 1985 dia merintis usaha di Jambi. Perkembangannya tidak begitu pesat, karena kepengurusannya masih melalui pihak ketiga. Pada 1990 Simon memutuskan menetap di Jambi dan mengurus sendiri usahanya. Lalu pada 1992, Roti Prancis berganti nama menjadi Saimen yang diambil mirip namanya. “Roti Saimen itu pun langsung saya patenkan,” tegasnya.
Menjalankan bisnis roti, menurut Simon, perlu kerja keras, penelitian soal rasa dan selera pasar, serta kualitas makanan. Berkat keuletan dan kepiawaiannya menjalankan usaha roti, usaha itu pun terus berkembang dengan menambah berbagai menu seperti mi, ayam goreng, dan kue jajanan pasar. “Agar usaha ini terus berkembang, saya sangat menjaga kualitas rasa dan bahan. Selanjutnya baru melakukan promosi agar lebih dikenal masyarakat,” imbuhnya.
Simon pun membuka beberapa cabang seperti di Muarabungo dan Sipin. Tak hanya sampai di situ, Simon pun melebarkan sayap bisnisnya hingga ke provinsi tetangga seperti Bengkulu, Palembang, dan Tanjungpinang. Bahkan pada 2010 Simon berencana membuka sepuluh cabang lagi di beberapa daerah, di antaranya Tembilahan, Bangko, Sarolangun, Linggau, dan Curup.
Kalau biasanya usaha dimulai dari kota besar ke daerah, Simon justru memulai sebaliknya. “Karena itulah sama teman-teman saya dijuluki ‘Si Kabayan Masuk Kota’,” ucapnya sambil tersenyum.
Resep roti dan masakan yang ditawarkan Simon sesuai selera masyarakat setempat. Ia rajin mempelajari selera masyarakat di berbagai daerah, lalu meraciknya menjadi sebuah citarasa yang khas, lezat, dan tanpa pengawet. “Target untuk ekspansi penuhi wilayah Sumatera,” ucapnya optimistis.
Untuk memperkaya ilmu, Simon rela merogoh kocek lebih dalam guna mengikuti kursus di Jakarta dan beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Bangkok, Thailand, Taiwan, Jepang, Cina, dan beberapa negara Eropa. “Habis belajar dari Eropa, pulangnya di pesawat saya nyaris hampir mati gara-gara menahan buang angin,” ucapnya sambil tertawa. Simon mengaku tidak enak kentut karena di sebelahnya duduk seorang bule Eropa. Takut dianggap tidak sopan, ia menahan kentut hingga perut terasa bengkak dan napas terasa menyesak. “Saya sampai terbaring lemas,” katanya sambil mengelengkan kepala.
Lantas dengan ilmu yang didapat itu, ia pun berencana membangun Baking School, pusat pendidikan para kitchen (tukang masak) dan baker (pembuat roti). “Tapi ini masih untuk kalangan intern,” pungkasnya.
Dalam waktu dekat Simon berencana membuka I-Donat and Cafe di Jalan Sumantri Brojonegoro, Sipin. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat semua terealisasi,” katanya mengakhiri percakapan.(*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar